Minggu, 06 Januari 2013

Tinjaun tentang pendidikan karakter



UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3,   menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang,  harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik   mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari dimasyarakat.
Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.di masyarakat. Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skilldaripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Soft skill ini merupakan bagaian karakter yang harus dibentuk melalui pendidikan mulai tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi.
Kementerian Pendidikan Nasional telah mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Berdasarkan Grand design pendidkan karakter nasional menyebutkan bahwa Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).
Berdasarkan hal di atas maka dapat dilihat bahwa salah satu karakter yang harus terbentuk dalam perilaku peserta didik  adalah peningkatan keimanan dan ketakwaan pada Tuhan yang maha Esa. Iman dan takwa pada Tuhan sebetulnya merupakan landasan yang kuat untuk terbentuknya karakter yang lainnya yang meliputi karakter terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kebangsaan yang terbentuk melalui olah pikir, olah hati, olah raga dan olah rasa serta karsa. sehingga terbentuk karakter manusia insan kamil yang utuh seperti yang disebutkan pada tujuan pendidikan karakter yang telah disebutkan di atas, .
Karakter seseorang yang terbentuk akan dipengaruhi oleh pola pikir dan pola sikap yang dianut oleh seseorang/peserta didik. Kalau pola pikir dan pola sikap yang dianut dilandaskan  pada  iman dan takwa kepada Tuhan sebagai pencipta dan pengatur makhluknya maka akan terbentuknya karakter  yang tepat dan kuat yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, baik itu karakter terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan dan kebangsaan yang diperoleh melalui aktivitas olah pikir, olah hati, olah raga dan olah rasa dan karsa.
http://fkip.um-surabaya.ac.id/berita/29-pendidikan-karakter-berbasis-iman-dan-takwa-melalui-pemaknaan-model-dalam-pembelajaran-biologi

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Education Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template